Berawal dari akar yang tersembunyi,
menyulam sunyi di perut bumi,
menyeduh gelap seperti doa pertama
yang tak bersuara, namun setia menunggu pagi.
Dari retak tanah yang tak berjanji,
ia merambat pelan—
serupa rahasia yang tumbuh diam-diam
di antara denting waktu yang lirih.
Hingga pada suatu hari,
dunia membuka dadanya,
dan ia mekar:
sebuah warna yang membuat mata teduh,
seperti embun jatuh ke hati yang letih.
Namun kecantikan tak pernah datang telanjang—
di balik kelopaknya yang lembut,
duri-duri berdiri dengan kesunyian yang tajam,
menjaga agar siapa pun mengerti
bahwa keindahan pun butuh jarak
untuk tetap menjadi dirinya.
Maka ia hanya dapat dilihat,
disentuh oleh pandangan,
bukan oleh genggaman.
Karena beberapa keindahan—
seperti bunga itu,
seperti rasa yang diam-diam tumbuh—
ditakdirkan untuk mekar sempurna,
namun tak pernah sepenuhnya digapai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan bosan yaa